welcome



cursor

Tinkerbell Flying Cartoons Myspace Comments
MyNiceProfile.com

Wednesday, 11 September 2013

PEMERIKSAAN URINALISA

PEMERIKSAAN URINALISA

PEMERIKSAAN SECARA MAKROSKOPIS

Metode : Visual

 Prinsip : Jumlah urine diukur menggunakan gelas ukur, bau urine dikenali dengan penciuman, warna dan kejernihan diamati pada tempat dengan pencahayaan terang.
 Tujuan : Untuk menentukan jumlah, buih, bau, warna dan kejernihan urine
 Alat dan Reagensia : Gelas Ukur dan tabung reaksi
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Disiapkan gelas ukur yang bersih dan kering.
- Dituang urine dan diukur jumlahnya pada skala dan dicatat volumenya.
- Dikocok sampai homogen, amati buihnya dan dituang dalam tabung reaksi besar.
- Diamati bau, warna dan kekeruhannya dengan cahaya yang cukup.
 Nilai Normal :
- Jumlah : Urine 24 jam volume 800 mL – 1,2 Liter.
- Bau : Khas urine , dan tajam, bau asam organik.
- Warna : Kuning muda sampai kuning tua.
- Kejernihan : jernih.
- Buih : Terdapat buih dan akan segera hilang bila didiamkan.

 pH (keasaman)

 Metode : Visual Strip Universal
 Prinsip : Kertas indikator akan berubah warnanya sesuai dengan tingkat keasaman urine dan dibandingkan dengan warna standar.
 Tujuan : Untuk menentukan pH urine
 Alat dan Reagensia : Gelas Ukur dan Kertas Indikator Universal
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Kertas Strip indikator dicelupkan ke dalam urine
- Kertas Strip indikator disentuhkan pada kertas tissue untuk menghilangkan kelebihan urine.
- Dibandingkan dengan deret standar warna indikator.
 Nilai Normal : pH 5,0 – 7,5

 Berat Jenis (BJ)

 Metode : Urinometer
 Prinsip : Berat jenis urine ditentukan dengan menggunakan urinometer dan dikoreksi perbedaan suhu menggunakan rumus koreksi.
 Tujuan : Untuk menentukan BJ urine
 Alat dan Reagensia : Urinometer dan termometer
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine dimasukkan dalam bejana urinometer sampai batas skala.
- Diukur suhu urine menggunakan termometer.
- Dimasukkan urinometer dan diputar perlahan tangkainya hingga berputar dan mengapung di dalam bejana urine.
- Diamati pada skala tangkai BJ urine yang didapat dan dibaca meniskus bawah sejajar dengan mata.
- Dihitung koreksi BJ menggunakan rumus.
 Rumus Perhitungan :
BJ Urine = Skala urinometer didapat + (Suhu Urine – Suhu Tera
3 x 0,001)
 Nilai Normal :
- Urine sewaktu : 1.015 – 1.025
- Urine 24 jam : 1.003 – 1.030

 Berat Jenis (BJ)

 Metode : Refraktometer Abbe
 Prinsip : Berat jenis urine ditentukan dengan menggunakan refraktometer berdasarkan atas indeks bias cairan yang direfraksi oleh urine.
 Tujuan : Untuk menentukan BJ urine
 Alat dan Reagensia : Refraktometer
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Prisma refraktometer ditetesi dengan urine 1-2 tetes.
- Penutup prisma ditutup secara hati-hati dan seluruh kaca harus dibasahi oleh urine secara merata.
- Melalui lensa eyepiece, diputar dan dicocokkan skala pada alat refraktometer.
- Skala dibaca pada garis batas yang memotong skala.
- Prisma dibersihkan dengan kertas tissue setelah digunakan dan siap untuk digunakan pada sampel urine selanjutnya.
 Nilai Normal :
- Urine sewaktu : 1.015 – 1.025
- Urine 24 jam : 1.003 – 1.030

PEMERIKSAAN SECARA KIMIA

 Glukosa (Reduksi)

 Metode : Benedict
 Prinsip : Dalam suasana alkali dan pemanasan, glukosa dan gula-gula reduktor akan mereduksi garam kompleks reagent benedict, ion cupri (Cu++) direduksi menjadi Cupro (Cu+) dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O yang berwarna kuning hingga merah bata.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya glukosa/gula pereduksi dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang - Reagen Benedict :
- Penjepit tabung - CuSO4.5H20 ………….……17,3 gram
- Pipet tetes - Na2CO3 Anhidrat …….…….100 gram
- Lampu Spritus - Natrium Sitrat ………………173 gram
- Pipet Ukur 5 mL - Aquadest ……………..……..1000 mL
- Timer
- Waterbath
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Masukkan 2,5 mL reagent Benedict ke dalam tabung reaksi.
- Ditambahkan 4 tetes urine dan dipanaskan diatas nyala api spritus (jangan sampai mendidih dan meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70°C selama 2 menit.
- Didinginkan dan dibaca hasilnya.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
Negatif (-) : Tetap biru atau hijau jernih (0 – 0,1 gram/dL)
+ : Keruh warna hijau agak kuning (0,5 – 1 gram/dL)
++ : Kuning kehijauan dengan endapan kuning (1 – 1,5 gram/dL)
+++ : Kuning kemerahan endapan kuning merah (1,5 – 2,5 gram/dL)
++++ : Merah orange sampai merah bata dengan endapan merah coklat
(2,5 – 4 gram/dL)
 Catatan :
- Hasil pemeriksaan positif tidak selalu menunjukkan glukosuria terkait diabetes mellitus, hal ini karena banyak bahan lain dalam urine yang mempunyai sifat mereduksi reagent Benedict, seperti : laktosa, galaktosa, fruktosa, pentosa, asam homogentesic, Vitamin C, Asam salisilat dan Amydopyrin.
- Ketelitian yang lebih baik menggunakan metode stick berdasarkan reaksi enzimatik GOD-PAP.

 Protein

 Metode : Bang
 Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah dan pemanasan, akan mengalami denaturasi yang kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang - Reagen Bang :
- Penjepit tabung - Natrium Asetat ……….…….11,8 gram
- Pipet tetes - Asam Asetat Glacial….…….5,85 gram
- Lampu Spritus - Aquadest ………………..……..100 mL
- Pipet Ukur 5 mL
- Timer
- Waterbath
- Sentrifuge
- Tabung sentrifuge
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Masukkan 2/3 bagian urine ke dalam tabung sentrifuge.
- Sentrifuge selama 5 menit pada 1500 rpm.
- Supernatan di tuang ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 mL.
- Ditambah 4 tetes reagent Bang dan dipanasi dengan nyala api spritus sampai mendidih (jangan sampai meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70°C selama 2 menit.
- Didinginkan dan dibaca hasilnya.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
Negatif (-) : Jernih, ada kekeruhan yang sangat sedikit sekali. (< 10 mg/dL)
+ : Ada kekeruhan dengan latar belakang tulisan masih terbaca (10 – 50 mg/dL)
++ : Kekeruhan jelas dengan latar belakang tulisan tidak terbaca (50 – 200 mg/dL)
+++ : Kekeruhan berkeping-keping yang nyata (200 – 500 mg/dL)
++++ : Endapan menggumpal besar dan membeku (> 500 mg/dL)
 Catatan :
- Positif palsu dapat terjadi apabila urine mengandung proteose, tolbutamine dan sulfonat.
- Adanya protein dalam jumlah sedikit tidak selalu menunjukkan kelainan patologis. Misal pada : latihan fisik yang berat, lama berdiri (postural albuminuria).
- Hasil positif ditemukan pada kerusakan ginjal, kehamilan dengan preeklamsia, febris, infeksi pada saluran kemih dan ginjal, sindrom nefrotik dan lain-lain.
- Apabila tidak memiliki larutan Bang, maka cukup menggunakan asam cuka 6% atau asam cuka makan pasaran.
Metode lain pemeriksaan Protein :
 Metode : Asam Sulfosalisilat 20%
 Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah organik akan mengalami denaturasi yang kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang - Reagen Asam Sulfosalisilat 20%
- Penjepit tabung - Asam Sulfosalisilat …….…….20 gram
- Pipet tetes - Aquadest….………………….….10 mL
- Lampu Spritus
- Pipet Ukur 5 mL
 Sampel : Urine sewaktu
 Cara Kerja :
- Siapkan 2 buah tabung reaksi dan dimasukkan urine jernih sebanyak 5 mL urine.
- Ditambah 8 tetes asam sulfosalisilat 20%.
- Dibandingkan kekeruhan kedua tabung tersebut.
- Bila terjadi kekeruhan pada tabung kedua setelah penambahan asam sulfosalisilat 20%, dipanaskan tabung tersebut :
o Bila panas tetap keruh setelah dingin juga tetap keruh, berarti positif protein.
o Bila hilang saat pemanasan dan dingin kembali keruh : Protein Bence Jones.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
Negatif (-) : Jernih, ada kekeruhan yang sangat sedikit sekali. (< 10 mg/dL)
+ : Ada kekeruhan dengan latar belakang tulisan masih terbaca (10 – 50 mg/dL)
++ : Kekeruhan jelas dengan latar belakang tulisan tidak terbaca (50 – 200 mg/dL)
+++ : Kekeruhan berkeping-keping yang nyata (200 – 500 mg/dL)
++++ : Endapan menggumpal besar dan membeku (> 500 mg/dL)

 Bilirubin

 Metode : Harrison
 Prinsip : ion sulfat (SO42-) dan fosfat (PO43-) akan diendapkan oleh BaCl2 membentuk BaSO4 dan Ba3(PO4)2 dan bilirubin akan menempel pada endapan ini, dengan reagent Fouchet (Ferri Klorida) bilirubin dioksidasi menjadi biliverdin yang berwarna hijau.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya bilirubin dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi - Reagent Fouchet :
- Kertas saring - FeCl3 ………………..0,9 gram
- Corong - Trikloroasetat 25% ….100 mL
- Pipet Tetes
- Pipet ukur 5 mL
- Reagent BaCl2 10%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 3 mL dicampur dengan BaCl2 10% sama banyak.
- Dikocok dan disaring menggunakan kertas saring.
- Kertas saring dibuka dan ditetesi dengan reagent Fouchet 2 tetes.
- Dilihat adanya warna hijau
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak ada perubahan warna atau agak coklat (endapan FePO4)
- Positif (+) : Terjadi warna hijau yang makin lama makin jelas.
 Catatan :
- Urine yang mengandung bilirubin biasanya berwarna kuning tua hingga kecoklatan merah seperti the tua dan pada uji busa akan terbentuk buih yang berwarna kuning dan sulit untuk hilang.
Metode lain pemeriksaan Bilirubin :
 Metode : Cincin Yodium
 Prinsip : Yodium mengoksidasi bilirubin menjadi senyawa biliverdin yang berwarna hijau.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya bilirubin dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet Tetes
- Reagent Yodium 1% atau Lugol.
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 3 mL ke dalam tabung reaksi.
- Melalui dinding tabung tambahkan 5-10 tetes Yodium 1% sampai menumpang dipemukaan urine tadi membentu lapisan cincin.
- Dilihat adanya warna hijau
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi perubahan
- Positif (+) : Terjadi cincin warna hijau pada kedua batas cairan.

 Benda Keton

 Metode : Rothera
 Prinsip : Natrium nitropruside dalam suasana alkalis akan bereaksi dengan aceton atau diacetic acid dan membentuk warna ungu.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya benda keton dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Pipet ukur 5 mL
- Larutan Ammonia 10%
- Ammonium sulfat jenuh
- Natrium nitropruside 5%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Dicampur 2 mL urine dan Ammonium sulfat jenuh.
- Ditambahkan 3 tetes larutan Natrium nitropruside 5%.
- Ditambahkan ammonia 10% melalui dinding tabung secara perlahan sehingga terbentuk 2 lapisan.
- Dilihat hasilnya pada kedua lapisan.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak ada perubahan warna atau warna coklat.
- Positif (+) : Terbentuk cincin ungu ditengah kedua lapisan.
 Catatan :
- Benda keton (keton Bodies) terdiri : Aseton, asam beta hidroksi butirat dan asam asetoasetat (diacetic acid) yang ditemukan dalam urine.
- Kadar glukosa darah yang sangat tinggi, biasanya ditemukan benda keton yang tinggi dalam darah dan terfiltrasi dalam urine oleh ginjal.
- Benda keton juga ditemukan pada starvasi (kelaparan yang lama) atau dehidrasi berat, akibat mobilisasi lemak berlebih menjadi asam lemak rantai pendek dalam darah karena liposis.
- Sampel yang tidak segera diperiksa harus beri pengawet toluene untuk mencegah aseton menguap.
- Test ini sangat sensitif untuk diacetic acid dibandingkan yang lain.

 Urobilin

 Metode : Schlisinger
 Prinsip : Urobilin bereaksi dengan Zink Asetat membentuk senyawa yang berwarna hijau fluorecens.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya urobilin dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi - Larutan Lugol :
- Pipet ukur 5 mL - I2 ………………….1 gram
- Pipet tetes - KI ………………… 2 gram
- Reagent Schlisinger : - Aquadest …………300 mL
- Zinc. Acetat ……………10 gram
- Alkohol 98% …………….100 mL
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 5 mL (atau filtrat test bilirubin) dicampur dengan reagensia Schlisinger sama banyak.
- Ditambahkan 2 tetes Lugol dan dicampur.
- Disaring dengan kertas saring dan di amati larutan dengan latar belakang hitam/gelap.
 Nilai Normal : Dalam batas normal tidak memberikan hasil positif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
- Positif (+) : Terbentuk warna hijau fluorecens.
 Catatan :
- Urine yang baru dikeluarkan hanya mengandung urobilinogen dan akan berubah menjadi urobilin karena oksidasi udara.
- Urobilin akan terbentuk setelah kira-kira 30 menit setelah pengumpulan urine.

 Urobilinogen

 Metode : Wallace Diamond
 Prinsip : Urobilinogen dengan paradimetil amino benzaldehide akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna merah anggur.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya urobilinogen dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung Reaksi
- Pipet Ukur 5 mL
- Pipet Ukur 1 mL
- Timer
- Reagent Ehrlich :
- Paradimetil amino benzaldehide …………..2 gram
- HCl pekat 37% ……………………………….20 mL
- Aqudest add …….…………………………..100 mL
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Sebanyak 5 mL urine yang masih segar ditambah dengan 0,5 mL reagent Ehrlich.
- Didiamkan selama 5 menit dan dibaca hasilnya.
 Nilai Normal : Ditemukan hanya dalam urine segar dan dalam batas normal negatif.
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
- Positif (+) : Terbentuk warna merah.

 Darah Samar (Occult Blood)

 Metode : Benzidine Basa atau Tetrametil Benzidine (Ortotoluidine)
 Prinsip : Hemoglobin dalam urine sebagai peroksidase akan menguraikan hidrogen peroksida (H2O2) yang akan mengoksidasi benzidine menjadi senyawa yang berwarna biru kehijauan.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya darah samar dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang
- Pipet ukur 5 mL
- Pipet tetes
- Lampu spritus
- Serbuk Benzidine
- Asam Asetat glasial
- H2O2 3%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 4 mL dipanaskan dan dibiarkan dingin.
- Dimasukkan seujung pisau serbuk Benzidine Basa pada tabung kosong.
- Ditambah dengan 3 mL asam asetat glasial.
- Dikocok dan biarkan larutan agak jenuh benzidine.
- Ditambahkan urine yang telah didinginkan.
- Ditambah dengan 1 mL H2O2 3% dan campur perlahan.
- Dilihat adanya perubahan warna pada larutan kurang dari 5 menit.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
- Positif (+) : Terbentuk warna biru kehijauan.
 Catatan :
- Darah samar ditemukan pada kerusakan pada saluran kemih yang menyebabkan hemoglobin dan eritrosit dalam urine.
- Benzidine Basa sangat toksis dan bersifat karsinogenik, harus hati-hati menggunakan bahan ini.

 Protein Esbach

 Metode : Esbach
 Prinsip : Protein dalam suasana asam akan mengalami denaturasi hingga menggumpal dan akan mengendap pada dasar tabung setelah bereaksi dengan asam pikrat dan asam sitrat (Reagent Esbach), tinggi endapan diukur dan sebandingkan dengan protein yang terdapat dalam urine selama 24 jam.
 Tujuan : Untuk mengetahui jumlah protein secara kuantitatif dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung Albuminometer Esbach : Asam pikrat 1 gram, asam citrat 2 gr, aquadest add 100 ml. buatlah larutan kemudian ditambahkan HCl pekat 5,0 ml.
- Pipet tetes
- Serbuk batu apung
- Asam Asetat glasial
 Sampel : Urine 24 jam
 Persiapan Pasien :
- Penderita yang akan melakukan pemeriksaan disuruh menampung urinenya selama 24 jam dengan menyediakan wadah yang berukuran 2- 3 liter.
- Ditambahkan kedalamnya pengawet urine Thymol.
 Cara Kerja :
- Diukur dahulu jumlah/volume urine yang ditampung.
- Uji kualitatif harus bereaksi ++ hingga ++++ dan bila positif +++ dan ++++ urine harus diencerkan 2 hingga 8 x.
- Urine jernih yang harus dipakai serta bereaksi asam, jika perlu tambahlah beberapa tetes asam asetat glacial kepada urine hingga bereaksi asam
- Isilah tabung Esbach dengan serbuk batu apung sampai 3 mm tingginya.
- Masukkan urine hingga tanda batas “ U “.
- Tambahkan reagent Esbach kedalamnya hingga tanda “ R “.
- Sumbatlah tabung dan bolak-balik 12 kali.
- Letakkan tabung posisi tegak selama 24 jam.
- Tinggi presipitat dibaca dan dinyatakan dalam gram protein per liter urine per 24 jam. (gram/liter per 24 jam)
- Faktor pengenceran diperhitungkan bila dilakukan pengenceran urine
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi endapan.
- Positif (+) : Terbentuk endapan putih.
 Catatan :
- Apabila hasil pemeriksaan secara kualitatif negatif, maka tidak perlu dikerjakan protein Esbach karena tidak bermakna.

 Protein Bence Jones

 Metode : Bang
 Prinsip : Protein dalam suasana asam dan pemanasan 40 - 60°C akan mengalami denaturasi hingga menggumpal dan akan mengendap pada dasar tabung.
 Tujuan : Untuk mengetahui adanya protein Bence Jones dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Asam asetat 10%

 Sampel : Urine sewaktu

 Cara Kerja :
- Masukkan 2/3 bagian urine ke dalam tabung sentrifuge.
- Ditambah 4 tetes asam asetat 10% dan dipanasi dengan nyala api spritus sampai mendidih (jangan sampai meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70°C selama 2 menit.
- Biarkan beberapa saat sampai suhu ± 50°C (termometer) akan terjadi endapan putih yang berarti tes positif.

 Nilai Normal : Negatif

 Interpretasi Hasil :
- Negatif : tidak terjadi endapan putih pada suhu ± 50°C.
- Positif : terjadi endapan putih pada suhu ± 50°C.

 Aspek Klinik :
Protein Bence Jones sering terdapat pada multiple myeloma (myeloma berganda), kadang pada tumor-tumor tulang, leukemia kronis, empysema dan hiperparatiroidisme.

1 comment: