welcome



cursor

Tinkerbell Flying Cartoons Myspace Comments
MyNiceProfile.com

Wednesday, 1 January 2014

PENGAMBILAN DARAH VENA DAN KAPILER

PENGAMBILAN DARAH

Pengertian
Pengambilan darah di laboratorium sering diasumsikan dengan nama flebotomi. Flebotomi (bahasa inggris : phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dan tomia. Phleb berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong (“cutting”). Dahulu dikenal istilah venasectie (Belanda), venesection atau venisection (Inggris). Jadi tidaklah tepat karena flebotomi sebenarnya diarahkan pengambilan darah dengan cara vena seksi (vena section) dan tidak sempit maknanya juga karena mencakup darah vena, kapiler dan darah arteri. Pengambilan darah umumnya yang diberikan kepada analis kesehatan hanya untuk memperoleh spesimen darah yang berasal dari vena dan kapiler, namun tidak masuk dalam kurikulum mata pelajaran khusus yang mandiri, tetapi melekat pada hematologi. Hal ini memberikan sinyal bahwa pengambilan darah hanya untuk membantu analis kesehatan untuk memperoleh darah, bukan menjadi suatu keahlian profesional. Umumnya praktek awal pengambilan darah menggunakan suatu alat peraga phantom (suatu alat peraga yang dikondisikan mirip dengan vena manusia) dan setiap orang dapat mencobanya. Pengambilan darah selain bertujuan mengambil darah secara aman, juga harus memperhatikan etika dalam berkomunikasi dengan pasien, oleh sebab itu perlunya penjelasan petugas kepada pasien agar pasien merasa tenang saat akan dilakukan pengambilan darah. Petugas pengambilan darah pun harus menggunakan alat pelindung diri, agar terlindung dari resiko penularan penyakit infeksi melalui darah.

Pengambilan Darah Kapiler
Cara ini digunakan bila jumlah darah yang digunakan atau dibutuhkan sedikit yaitu kurang dari 0,5 ml darah. Biasanya digunakan hanya untuk satu atau dua macam pemeriksaan saja. Misalnya hanya untuk hemoglobin, hapusan darah, eritrosit atau hitung leukosit. Secara umum tidak ada perbedaan yang bermakna antara darah kapiler dan darah vena sebagai spesimen pemeriksaan hematologi, asalkan proses pengambilannya mengikuti ketentuan yang baku dan tidak tercampur cairan jaringan atau alkohol 70% antiseptik.
Pengambilan darah kapiler diindikasikan pada pada keadaan tertentu, seperti : neonatus, bayi prematur, luka bakar luas, gemuk, pasien dengan kecenderungan trombosis dan pasien dengan gangguan darah perifer.
Gambar 1. Pengambilan darah kapiler menggunakan autoclix pada jari tangan.

Alat dan Reagensia
1. Blood lancet atau Autoclix dan sebaiknya disposable pemakaiannya (single use only) untuk menghindari penularan penyakit dan ketajaman mata lancet tetap baik dan tajam. Kedua jenis alat ini cukup untuk menembus kulit dengan kedalaman antara 1 – 3 mm.
2. Kapas atau tissue kering
3. Kapas Alkohol 70%

Lokalisasi
Tempat penusukan bisa dipilih dari ujung jari tangan, cuping telinga, dan untuk bayi biasanya dari ujung jari kaki atau sisi lateral tumit. Jangan menusuk pada bagian tangan bayi karena akan tertusuk tembus hingga ke tulang sehingga akan menyebabkan kerusakan jaringan tulang pada bayi. Dalamnya tusukkan maksimal 2,5 mm, karena bila melebihi pada bayi akan terkena tulang kalkaneus. Tempat yang dipilih tidak boleh terlihat adanya gangguan peredaran darah seperti cyanosis (kebiruan) atau pucat.

Cara kerja
1. Tempat yang akan ditusuk harus diberi dengan antiseptik Alkohol 70%, lalu dibiarkan kering. Dapat juga menggunakan antiseptik Tincture Iodium 1%
2. Kulit setempat ditegangkan dengan memijat antara dua jari
3. Penusukkan dilakukan dengan gerakkan yang cepat dan tepat sehingga terjadi luka yang dalamnya 3 mm. Pada jari tusuklah dengan arah tegak lurus pada garis – garis sidik jari kulit dan jangan sejajar. Bila memakai anak daun telinga (cuping telinga), tusuklah pinggirnya, bukan sisinya. Tusukkan harus cukup dalam supaya darah mengalir keluar dengan mudah.
4. Tetesan darah pertama harus dihapus dengan kapas atau tissue bersih dan kering karena ini mungkin tercampur dengan alkohol.
5. Tetesan darah yang keluar selanjutnya dapat digunakan untuk pemeriksaan hematologi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan
  1. Sebelum dilakukan penusukan harus diperhatikan tempat-tempat yang tidak boleh diambil yaitu adanya peradangan, bekas luka dermatitis, oedema. Pada penderita yang pucat atau Cyanosis perlu dipijat-pijat dan digosok-gosok atau direndam dalam air hangat dulu supaya peredaran darah setempat mejadi lebih baik.
  2.  Penusukan pada ujung jari sebaiknya dilakukan pada sisi karena rasa nyeri berkurang.
  3. Jangan menekan atau memeras jari atau cuping telinga untuk mendapatkan darah yang cukup, darah yang diperas semacam ini bercampur dengan cairan jaringan dan menyebakan kesalahan dalam pemeriksaan.
  4. Pada cuping telinga yang tidak boleh diambil yaitu daerah yang dekat dengan anting, pada pengambilan darah pada cuping telinga tidak terlalu nyeri,
  5. Perlu diperhatikan kalau terjadi pendarahan pada cuping ini sukar untuk dihentikan oleh karena itu bagi penderita tersangka pendarahan tidak boleh dilakukan penusukan dicuping telinga.
Kesulitan
Bila kulit sekitar luka tak kering karena alkohol atau keringat, maka tetesan darah yang keluar tak dapat mengumpul pada tempat itu, melainkan segera menyebar disekitarnya, sehingga darah tidak dapat diperoleh secara sempurna.

Pengambilan darah vena
Darah vena diperoleh dengan jalan punksi vena. Jarum yang digunakan untuk menembus vena itu hendaknya cukup besar, sedangkan ujungnya harus runcing , tajam dan lurus. Dianjurkan untuk memakai jarum dan semprit yang disposable; semprit semacam itu biasanya dibuat dari semacam plastik. Baik semprit maupun jarum hendaknya dibuang setelah dipakai, janganlah disterilkan lagi guna pemakaian berulang.
Semprit yang banyak dipakai untuk pemeriksaan hematologi ialah yang mempunyai volume 2 dan 5 ml. Dianjurkan pula menggunakan “jarum – jarum steril“. Teknik pengambilan menggunakan tabung hampa (vacutainer, venoject) yakni jarum yang diperlengkapi dengan tabung gelas hampa udara; pada waktu melakukan pungsi vena, darah terisap ke dalam tabung itu. Alat ini dapat digunakan 1 kali saja. Memakai jarum – tabung ini ada keuntungan tambahan karena darah yang diperoleh dalam keadaan tidak terkontaminasi.

Alat dan Reagensia :
1. Jarum dan semprit atau tabung vakum dilengkapi jarum dan holder.
Jarum harus cukup besar, ujungnya runcing, tajam dan lurus dan hendaknya dibuang setelah dipakai (dispossible).
2. Tourniquet
Bila tidak ada tourniquet dapat digunakan pembalut dari tensimeter atau selang karet yang lunak (lebar ± 5 cm).
3. Botol penampung darah
Kering dan tertutup, untuk keperluan mikrobiologi harus steril. Volumenya tidak terlalu besar untuk jumlah darah yang akan ditampung dan diberi label.
4. Kapas bersih beralkohol 70 % sebagai antiseptik
5. Bantalan
Sebagai pengganjal atau penopang tangan (jika diperlukan)

 Lokalisasi
Vena yang cukup besar dan letaknya superficial (permukaan) merupakan yang ideal sebagai vena yang akan ditusuk. Pada orang dewasa dapat menggunakan : vena diffosa cubiti, vena cephalica, vena cephalica mediana, vena basilica atau vena basilica mediana. Pada kondisi lain dapat juga menggunakan vena pada tangan, dimana biasanya perawat memasang infus, namun harus berhati – hati karena resiko tertusuk tulang sangat besar. Anak-anak dan bayi bila mengalami kesulitan dapat menggunakan vena Jugularis Externa (lebar), vena Femoralis (paha) dan atau vena Sinus sagitalis Superior (kepala), namun harus berpengalaman dan ahli dalam pengambilan darah.

Cara Kerja
1. Alat-alat yang diperlukan disiapkan di meja kerja.
2. Keadaan pasien diperiksa, diiusahakan pasien tenang begitu pula petugas pengambil darah (phlebotomis).
3. Ditentukan vena yang akan ditusuk, pada orang gemuk atau untuk vena yang tidak terlihat dibantu dengan palpasi (perabaan).
4. Daerah vena yang akan ditusuk diperhatikan dengan seksama terhadap adanya peradangan, dermatitis atau bekas luka, karena mempengaruhi hasil pemeriksaan.
5. Tempat penusukan beri antiseptik dengan Alkohol 70 % dan dibiarkan kering
6. Tourniquet dipasang pada lengan atas (bagian proximal lengan) 6 – 7 cm dari lipatan tangan.
7. Tegakkan kulit diatas vena dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak.
8. Dengan lubang jarum menghadap keatas, kulit ditusuk dengan sudut 45o – 60o sampai ujung jarum masuk lumen vena yang ditandai dengan berkurangnya tekanan dan masuknya darah ke ujung plastik jarum.
9. Holder ditarik perlahan-lahan sampai volume darah yang diinginkan apabila menggunakan syringe. Apabila menggunakan tabung vakum, tabung diambil dan ditusukkan pada ujung lain dari jarum tadi, maka darah akan masuk dengan sendirinya.
10. Torniquet dilepas pada lengan.
11. Kapas diletakkan diatas jarum dan ditekan sedikit dengan jari kiri, lalu jarum ditarik.
12. Pasien diinstruksikan untuk menekan kapas selama 1 menit pada tempat tusukan. Setelah itu direkatkan kapas menggunakan plester.
13. Jarum ditutup lalu dilepaskan dari sempritnya, darah dimasukkan kedalam botol penampung melalui dinding secara perlahan. Bila menggunakan antikoagulan, segera perlahan-lahan dicampur. Untuk tabung vakum segera dikocok perlahan untuk mencampurkan darah dengan zat aditif didalamnya.

Hal – hal yang perlu diperhatikan
1. Pastikan petugas telah menggunakan alat pelindung diri (APD) : jas laboratorium, masker, sarung tangan karet dan penutup kepala.
2. Pasien yang takut harus ditenangkan dengan memberi penjelasan mengenai apa yang akan dilakukan, maksud beserta tujuannya.
3. Pada pasien anak, perlu di fiksasi tangannya dengan petugas lain agar tidak bergerak pada saat penusukan.
4. Vena yang kecil terlihat sebagai garis-garis biru biasanya sukar digunakan
5. Untuk vena yang tidak dapat ditentukan karena letaknya yang dalam, usaha coba-coba dilarang untuk dilakukan
6. Pembendungan yang terlalu lama jangan dilakukan karena dapat mengakibatkan hemokonsentrasi setempat.
7. Hematoma, yaitu keluarnya darah dibawah kulit dalam jaringan pada kulit disekitar tusukkan akan terlihat berwarna biru, biasanya akan terasa nyeri, perintahkan pasien untuk mengompresnya dengan air hangat beberapa menit atau beberapa hari sampai sakitnya hilang.

PERALATAN PENGAMBILAN DARAH
Kode Warna Jarum
Jarum yang digunakan untuk pengambilan darah bermacam - macam ukurannya. Untuk itu perlu diketahui dan dipilih jenis jarum yang akan digunakan serta disesuaikan dengan volume yang akan diambil dan pasien yang akan diambil darah. Semakin besar nomor jarum, maka semakin kecil diameter lubang jarum. Kode warna jarum dapat dilihat pada plastik holder jarum yang akan disambungkan dengan spuit/semprit/syringe atau tabung vakum.

Ukuran jarum dengan kode warna pada plastik holder.
Jarum no. 27 G dengan warna merah jambu berukuran paling kecil, diikuti jarum No. 25 G warna kuning, jarum no. 24 G berwarna ungu, jarum no. 23 G biru, jarum no. 22 berwarna hitam, jarum no. 21 berwarna hijau, jarum no.20 kuning krim, jarum no.18 putih dan lainnya.
Untuk pemeriksaan hematologi biasanya digunakan jarum no. 21, 22 dan 23 pada orang dewasa dan anak, sedangkan pada bayi digunakan no.27 dan 25 G.

Ukuran Syringe (Spuit/Semprit)
Syringe yang tersedia dipasaran beragam ukuran mulai 1 ml, 3 ml, 5 ml, 10 ml, hingga 20 ml. Untuk pemeriksaan hematologi idealnya menggunakan syringe ukuran 1 ml, 3 ml dan 5 ml. Hal ini karena dalam pemeriksaan hematologi tidak terlalu banyak menggunakan darah untuk pemeriksaan di laboratorium.

Kode Warna Tabung vakum
Tabung vakum merupakan tabung yang telah hampa udara yang diproduksi oleh perusahaan, sehingga saat pengambilan darah maka akan tersedot sendiri dengan gaya vakum tabung ini. Tabung vakum rata-rata terbuat dari kaca antipecah atau plastik bening dengan berbagai ukuran volume yang berisi zat additif didalamnya. Tabung vakum dibedakan jenisnya berdasarkan warna tutup dan etiketnya, berikut kode warna untuk tiap tabung vakum :
1. Tutup dan Etiket Merah (Red Top)
Tabung jenis ini telah berisi reagent Clot Activator yang akan mempercepat pembekuan darah. Umumnya digunakan untuk Kimia darah, Serologi dan Bank Darah. Waktu pembekuan ideal 60 menit (sesuai standart NCCLS/National Committee Clinical Laboratory System) tetapi bisa di sentrifuge dibawah 60 menit asalkan sampel sudah mengental. Sample harus segera di sentrifuge dalam waktu maksimal 2 jam (dari pengambilan sampel). Di sentrifuge 1300-2000 rpm selama 10 menit.
Penyimpanan sampel : 22°C (dapat digunakan sampai 8 jam), 4°C (dapat digunakan 8-48 jam), -20°C (dapat digunakan diatas 48 jam). Ukuran tersedia 4 ml, 6 ml dan 10 ml.
2. Tutup dan Etiket Ungu muda (Lavender)
Berisi antikoagulan K3EDTA, sehingga darah diperoleh tidak beku. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan Hematologi. Ukuran tersedia 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 6 ml dan 8 ml.
3. Tutup dan Etiket Ungu (Violet)
Berisi antikoagulan K2EDTA, untuk mencegah pembekuan darah. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan Hematologi. Yang membedakan hanyalah isi dari antikoagulannya saja dibandingkan dengan K3EDTA lavender.
Dinding tabung bagian dalam dilapisi pengawet sehingga dapat memperpanjang waktu hidup dan metabolisme Sel darah Merah setelah proses pengambilan darah. Berisi antikoagulan K2EDTA (Ethylene Tetra Acetic Acid) yang berbentuk Spray dry. Setelah darah masuk penuh ke tabung ‘segera mungkin’ lakukan homogenisasi sebanyak 6x untuk menghindari penggumpalan thrombosit karena pada situasi thrombosit sangat bagus darah cepat sekali menggumpal. Agar mesin dapat membaca leukositenya disarankan sample darah yang masuk ketabung minimal 75% dari ml tabung yang dipakai. Ukuran tersedia 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 6 ml dan 8 ml.
4. Tutup dan Etiket Biru (Blue)
Berisi Trisodium sitrat 3,2% sesuai standart NCCLS dengan rasio sample darah : citrate = 9 : 1 (rasio yang selalu konstan akurasinya). Didesign khusus untuk tes koagulasi dan agregasi thrombosit. Dilapisi oleh double cover, yaitu : Poly Propylene (bagian dalam) agar tidak ada penguapan aditive, terjaga kevakuman. Poly Ethyline (bagian luar) mampu mengurangi insiden aktivasi platelet. Tersedia ukuran 1,8 ml, 2,7 ml dan 4,5 ml (Full Draw).
5. Tutup dan Etiket Hijau (Green)
Berisi Lithium Heparin dengan gel (PGS), baik digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion yang ada dalam darah. Direkomendasikan untuk pemeriksaan Kimia Darah, Kreatinin dan BUN, elektrolit dan enzim. Dihomogenisasi 6x dan di sentrifuge pada 1300 - 2000 rpm selama 10 menit dan kemudian plasma siap untuk dianalisa. Tersedia ukuran 1 ml, 2 ml, 3,5 ml, 5 ml dan 8 ml.
6. Tutup dan Etiket Abu-abu (Grey)
Berisi Kalium Oxalate berfungsi sebagai antikoagulan dan NaF yang berfungsi sebagai pengawet sehingga dapat menstabilkan kadar gula darah selama 24 jam pada suhu ruangan dan selama 48 jam jika disimpan pada suhu 4°C. NaF menghambat enzim Phosphoenol Pyruvate dan kerja urease (mencegah Glycolysis). Ukuran tersedia 2 ml, dan 3 ml.
7. Tutup dan Etiket Kuning (Yellow)
Disebut juga SST II/Serum Separator Tube. Berisi Silica sebagai Clot Activator dan Polymer Gel Innert sebagai pemisah serum sehingga diperoleh kualitas serum yang bagus dan mengurangi resiko timbulnya fibrin yang bisa menyumbat instrument.
Waktu mendapatkan serum hanya separuh dari Clot Activator/Red Top maka lebih menghemat waktu dan biaya. SST II / Serum Separator Tube. Sebagai pilihan terbaik untuk pemeriksaan kimia darah cito. Serum yang diperoleh lebih banyak jika dibanding dengan Clot Activator/Red Top sehingga efisien dalam pengambilan darah.
Memungkinkan untuk penundaan analisa specimen (diambil malam hari dan diproses/dianalisa esok hari). Satu tabung berfungsi sebagai penyimpan sekaligus analisa tube sehingga mengurangi kesalahan identifikasi. Setelah specimen masuk tabung dihomogenisasi 6x kemudian diamkan 15-30 menit (mengurangi resiko fibrin).Dicentrifuge pada 4000 rpm selama 10 menit (swing head) atau 15 menit (fixed angle). Ukuran tersedia 3,5 ml, 5 ml dan 8,5 ml
8. Tutup dan Etiket Hijau muda (Citrus)
Berisi Lithium Heparin sangat banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion yang ada dalam darah. Direkomendasikan untuk pemeriksaan Kimia Darah, Kreatinin dan BUN, elektrolit dan enzim.
9. Tutup dan Etiket Jingga (Orange)
Tabung tidak hampa/vakum, berisi Clot Activator yang berisi gel. Digunakan untuk laboratorium yang tidak memerlukan tabung vakum untuk mengumpulkan darah. Dapat digunakan pemeriksaan Kimia darah dan Serologi. Ukuran tabung 5 ml.
10. Tutup dan Etiket Hitam (Black)
Berisi Trisodium sitrat 3,8% untuk pemeriksaan LED/ESR metode Westergren. Ukuran tabung dengan isi 2,4 ml volume cairan.

SUMBER : DIKTAT HEMATOLOGI JILID 1 SMK UH BJM HAL 11 
dengan sedikit perubahan :D

Wednesday, 11 September 2013

PEMERIKSAAN URINALISA

PEMERIKSAAN URINALISA

PEMERIKSAAN SECARA MAKROSKOPIS

Metode : Visual

 Prinsip : Jumlah urine diukur menggunakan gelas ukur, bau urine dikenali dengan penciuman, warna dan kejernihan diamati pada tempat dengan pencahayaan terang.
 Tujuan : Untuk menentukan jumlah, buih, bau, warna dan kejernihan urine
 Alat dan Reagensia : Gelas Ukur dan tabung reaksi
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Disiapkan gelas ukur yang bersih dan kering.
- Dituang urine dan diukur jumlahnya pada skala dan dicatat volumenya.
- Dikocok sampai homogen, amati buihnya dan dituang dalam tabung reaksi besar.
- Diamati bau, warna dan kekeruhannya dengan cahaya yang cukup.
 Nilai Normal :
- Jumlah : Urine 24 jam volume 800 mL – 1,2 Liter.
- Bau : Khas urine , dan tajam, bau asam organik.
- Warna : Kuning muda sampai kuning tua.
- Kejernihan : jernih.
- Buih : Terdapat buih dan akan segera hilang bila didiamkan.

 pH (keasaman)

 Metode : Visual Strip Universal
 Prinsip : Kertas indikator akan berubah warnanya sesuai dengan tingkat keasaman urine dan dibandingkan dengan warna standar.
 Tujuan : Untuk menentukan pH urine
 Alat dan Reagensia : Gelas Ukur dan Kertas Indikator Universal
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Kertas Strip indikator dicelupkan ke dalam urine
- Kertas Strip indikator disentuhkan pada kertas tissue untuk menghilangkan kelebihan urine.
- Dibandingkan dengan deret standar warna indikator.
 Nilai Normal : pH 5,0 – 7,5

 Berat Jenis (BJ)

 Metode : Urinometer
 Prinsip : Berat jenis urine ditentukan dengan menggunakan urinometer dan dikoreksi perbedaan suhu menggunakan rumus koreksi.
 Tujuan : Untuk menentukan BJ urine
 Alat dan Reagensia : Urinometer dan termometer
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine dimasukkan dalam bejana urinometer sampai batas skala.
- Diukur suhu urine menggunakan termometer.
- Dimasukkan urinometer dan diputar perlahan tangkainya hingga berputar dan mengapung di dalam bejana urine.
- Diamati pada skala tangkai BJ urine yang didapat dan dibaca meniskus bawah sejajar dengan mata.
- Dihitung koreksi BJ menggunakan rumus.
 Rumus Perhitungan :
BJ Urine = Skala urinometer didapat + (Suhu Urine – Suhu Tera
3 x 0,001)
 Nilai Normal :
- Urine sewaktu : 1.015 – 1.025
- Urine 24 jam : 1.003 – 1.030

 Berat Jenis (BJ)

 Metode : Refraktometer Abbe
 Prinsip : Berat jenis urine ditentukan dengan menggunakan refraktometer berdasarkan atas indeks bias cairan yang direfraksi oleh urine.
 Tujuan : Untuk menentukan BJ urine
 Alat dan Reagensia : Refraktometer
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Prisma refraktometer ditetesi dengan urine 1-2 tetes.
- Penutup prisma ditutup secara hati-hati dan seluruh kaca harus dibasahi oleh urine secara merata.
- Melalui lensa eyepiece, diputar dan dicocokkan skala pada alat refraktometer.
- Skala dibaca pada garis batas yang memotong skala.
- Prisma dibersihkan dengan kertas tissue setelah digunakan dan siap untuk digunakan pada sampel urine selanjutnya.
 Nilai Normal :
- Urine sewaktu : 1.015 – 1.025
- Urine 24 jam : 1.003 – 1.030

PEMERIKSAAN SECARA KIMIA

 Glukosa (Reduksi)

 Metode : Benedict
 Prinsip : Dalam suasana alkali dan pemanasan, glukosa dan gula-gula reduktor akan mereduksi garam kompleks reagent benedict, ion cupri (Cu++) direduksi menjadi Cupro (Cu+) dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O yang berwarna kuning hingga merah bata.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya glukosa/gula pereduksi dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang - Reagen Benedict :
- Penjepit tabung - CuSO4.5H20 ………….……17,3 gram
- Pipet tetes - Na2CO3 Anhidrat …….…….100 gram
- Lampu Spritus - Natrium Sitrat ………………173 gram
- Pipet Ukur 5 mL - Aquadest ……………..……..1000 mL
- Timer
- Waterbath
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Masukkan 2,5 mL reagent Benedict ke dalam tabung reaksi.
- Ditambahkan 4 tetes urine dan dipanaskan diatas nyala api spritus (jangan sampai mendidih dan meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70°C selama 2 menit.
- Didinginkan dan dibaca hasilnya.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
Negatif (-) : Tetap biru atau hijau jernih (0 – 0,1 gram/dL)
+ : Keruh warna hijau agak kuning (0,5 – 1 gram/dL)
++ : Kuning kehijauan dengan endapan kuning (1 – 1,5 gram/dL)
+++ : Kuning kemerahan endapan kuning merah (1,5 – 2,5 gram/dL)
++++ : Merah orange sampai merah bata dengan endapan merah coklat
(2,5 – 4 gram/dL)
 Catatan :
- Hasil pemeriksaan positif tidak selalu menunjukkan glukosuria terkait diabetes mellitus, hal ini karena banyak bahan lain dalam urine yang mempunyai sifat mereduksi reagent Benedict, seperti : laktosa, galaktosa, fruktosa, pentosa, asam homogentesic, Vitamin C, Asam salisilat dan Amydopyrin.
- Ketelitian yang lebih baik menggunakan metode stick berdasarkan reaksi enzimatik GOD-PAP.

 Protein

 Metode : Bang
 Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah dan pemanasan, akan mengalami denaturasi yang kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang - Reagen Bang :
- Penjepit tabung - Natrium Asetat ……….…….11,8 gram
- Pipet tetes - Asam Asetat Glacial….…….5,85 gram
- Lampu Spritus - Aquadest ………………..……..100 mL
- Pipet Ukur 5 mL
- Timer
- Waterbath
- Sentrifuge
- Tabung sentrifuge
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Masukkan 2/3 bagian urine ke dalam tabung sentrifuge.
- Sentrifuge selama 5 menit pada 1500 rpm.
- Supernatan di tuang ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 mL.
- Ditambah 4 tetes reagent Bang dan dipanasi dengan nyala api spritus sampai mendidih (jangan sampai meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70°C selama 2 menit.
- Didinginkan dan dibaca hasilnya.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
Negatif (-) : Jernih, ada kekeruhan yang sangat sedikit sekali. (< 10 mg/dL)
+ : Ada kekeruhan dengan latar belakang tulisan masih terbaca (10 – 50 mg/dL)
++ : Kekeruhan jelas dengan latar belakang tulisan tidak terbaca (50 – 200 mg/dL)
+++ : Kekeruhan berkeping-keping yang nyata (200 – 500 mg/dL)
++++ : Endapan menggumpal besar dan membeku (> 500 mg/dL)
 Catatan :
- Positif palsu dapat terjadi apabila urine mengandung proteose, tolbutamine dan sulfonat.
- Adanya protein dalam jumlah sedikit tidak selalu menunjukkan kelainan patologis. Misal pada : latihan fisik yang berat, lama berdiri (postural albuminuria).
- Hasil positif ditemukan pada kerusakan ginjal, kehamilan dengan preeklamsia, febris, infeksi pada saluran kemih dan ginjal, sindrom nefrotik dan lain-lain.
- Apabila tidak memiliki larutan Bang, maka cukup menggunakan asam cuka 6% atau asam cuka makan pasaran.
Metode lain pemeriksaan Protein :
 Metode : Asam Sulfosalisilat 20%
 Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah organik akan mengalami denaturasi yang kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang - Reagen Asam Sulfosalisilat 20%
- Penjepit tabung - Asam Sulfosalisilat …….…….20 gram
- Pipet tetes - Aquadest….………………….….10 mL
- Lampu Spritus
- Pipet Ukur 5 mL
 Sampel : Urine sewaktu
 Cara Kerja :
- Siapkan 2 buah tabung reaksi dan dimasukkan urine jernih sebanyak 5 mL urine.
- Ditambah 8 tetes asam sulfosalisilat 20%.
- Dibandingkan kekeruhan kedua tabung tersebut.
- Bila terjadi kekeruhan pada tabung kedua setelah penambahan asam sulfosalisilat 20%, dipanaskan tabung tersebut :
o Bila panas tetap keruh setelah dingin juga tetap keruh, berarti positif protein.
o Bila hilang saat pemanasan dan dingin kembali keruh : Protein Bence Jones.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
Negatif (-) : Jernih, ada kekeruhan yang sangat sedikit sekali. (< 10 mg/dL)
+ : Ada kekeruhan dengan latar belakang tulisan masih terbaca (10 – 50 mg/dL)
++ : Kekeruhan jelas dengan latar belakang tulisan tidak terbaca (50 – 200 mg/dL)
+++ : Kekeruhan berkeping-keping yang nyata (200 – 500 mg/dL)
++++ : Endapan menggumpal besar dan membeku (> 500 mg/dL)

 Bilirubin

 Metode : Harrison
 Prinsip : ion sulfat (SO42-) dan fosfat (PO43-) akan diendapkan oleh BaCl2 membentuk BaSO4 dan Ba3(PO4)2 dan bilirubin akan menempel pada endapan ini, dengan reagent Fouchet (Ferri Klorida) bilirubin dioksidasi menjadi biliverdin yang berwarna hijau.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya bilirubin dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi - Reagent Fouchet :
- Kertas saring - FeCl3 ………………..0,9 gram
- Corong - Trikloroasetat 25% ….100 mL
- Pipet Tetes
- Pipet ukur 5 mL
- Reagent BaCl2 10%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 3 mL dicampur dengan BaCl2 10% sama banyak.
- Dikocok dan disaring menggunakan kertas saring.
- Kertas saring dibuka dan ditetesi dengan reagent Fouchet 2 tetes.
- Dilihat adanya warna hijau
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak ada perubahan warna atau agak coklat (endapan FePO4)
- Positif (+) : Terjadi warna hijau yang makin lama makin jelas.
 Catatan :
- Urine yang mengandung bilirubin biasanya berwarna kuning tua hingga kecoklatan merah seperti the tua dan pada uji busa akan terbentuk buih yang berwarna kuning dan sulit untuk hilang.
Metode lain pemeriksaan Bilirubin :
 Metode : Cincin Yodium
 Prinsip : Yodium mengoksidasi bilirubin menjadi senyawa biliverdin yang berwarna hijau.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya bilirubin dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet Tetes
- Reagent Yodium 1% atau Lugol.
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 3 mL ke dalam tabung reaksi.
- Melalui dinding tabung tambahkan 5-10 tetes Yodium 1% sampai menumpang dipemukaan urine tadi membentu lapisan cincin.
- Dilihat adanya warna hijau
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi perubahan
- Positif (+) : Terjadi cincin warna hijau pada kedua batas cairan.

 Benda Keton

 Metode : Rothera
 Prinsip : Natrium nitropruside dalam suasana alkalis akan bereaksi dengan aceton atau diacetic acid dan membentuk warna ungu.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya benda keton dalam urine
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Pipet ukur 5 mL
- Larutan Ammonia 10%
- Ammonium sulfat jenuh
- Natrium nitropruside 5%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Dicampur 2 mL urine dan Ammonium sulfat jenuh.
- Ditambahkan 3 tetes larutan Natrium nitropruside 5%.
- Ditambahkan ammonia 10% melalui dinding tabung secara perlahan sehingga terbentuk 2 lapisan.
- Dilihat hasilnya pada kedua lapisan.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak ada perubahan warna atau warna coklat.
- Positif (+) : Terbentuk cincin ungu ditengah kedua lapisan.
 Catatan :
- Benda keton (keton Bodies) terdiri : Aseton, asam beta hidroksi butirat dan asam asetoasetat (diacetic acid) yang ditemukan dalam urine.
- Kadar glukosa darah yang sangat tinggi, biasanya ditemukan benda keton yang tinggi dalam darah dan terfiltrasi dalam urine oleh ginjal.
- Benda keton juga ditemukan pada starvasi (kelaparan yang lama) atau dehidrasi berat, akibat mobilisasi lemak berlebih menjadi asam lemak rantai pendek dalam darah karena liposis.
- Sampel yang tidak segera diperiksa harus beri pengawet toluene untuk mencegah aseton menguap.
- Test ini sangat sensitif untuk diacetic acid dibandingkan yang lain.

 Urobilin

 Metode : Schlisinger
 Prinsip : Urobilin bereaksi dengan Zink Asetat membentuk senyawa yang berwarna hijau fluorecens.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya urobilin dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi - Larutan Lugol :
- Pipet ukur 5 mL - I2 ………………….1 gram
- Pipet tetes - KI ………………… 2 gram
- Reagent Schlisinger : - Aquadest …………300 mL
- Zinc. Acetat ……………10 gram
- Alkohol 98% …………….100 mL
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 5 mL (atau filtrat test bilirubin) dicampur dengan reagensia Schlisinger sama banyak.
- Ditambahkan 2 tetes Lugol dan dicampur.
- Disaring dengan kertas saring dan di amati larutan dengan latar belakang hitam/gelap.
 Nilai Normal : Dalam batas normal tidak memberikan hasil positif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
- Positif (+) : Terbentuk warna hijau fluorecens.
 Catatan :
- Urine yang baru dikeluarkan hanya mengandung urobilinogen dan akan berubah menjadi urobilin karena oksidasi udara.
- Urobilin akan terbentuk setelah kira-kira 30 menit setelah pengumpulan urine.

 Urobilinogen

 Metode : Wallace Diamond
 Prinsip : Urobilinogen dengan paradimetil amino benzaldehide akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna merah anggur.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya urobilinogen dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung Reaksi
- Pipet Ukur 5 mL
- Pipet Ukur 1 mL
- Timer
- Reagent Ehrlich :
- Paradimetil amino benzaldehide …………..2 gram
- HCl pekat 37% ……………………………….20 mL
- Aqudest add …….…………………………..100 mL
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Sebanyak 5 mL urine yang masih segar ditambah dengan 0,5 mL reagent Ehrlich.
- Didiamkan selama 5 menit dan dibaca hasilnya.
 Nilai Normal : Ditemukan hanya dalam urine segar dan dalam batas normal negatif.
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
- Positif (+) : Terbentuk warna merah.

 Darah Samar (Occult Blood)

 Metode : Benzidine Basa atau Tetrametil Benzidine (Ortotoluidine)
 Prinsip : Hemoglobin dalam urine sebagai peroksidase akan menguraikan hidrogen peroksida (H2O2) yang akan mengoksidasi benzidine menjadi senyawa yang berwarna biru kehijauan.
 Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya darah samar dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi panjang
- Pipet ukur 5 mL
- Pipet tetes
- Lampu spritus
- Serbuk Benzidine
- Asam Asetat glasial
- H2O2 3%
 Sampel : Urine
 Cara Kerja :
- Urine sebanyak 4 mL dipanaskan dan dibiarkan dingin.
- Dimasukkan seujung pisau serbuk Benzidine Basa pada tabung kosong.
- Ditambah dengan 3 mL asam asetat glasial.
- Dikocok dan biarkan larutan agak jenuh benzidine.
- Ditambahkan urine yang telah didinginkan.
- Ditambah dengan 1 mL H2O2 3% dan campur perlahan.
- Dilihat adanya perubahan warna pada larutan kurang dari 5 menit.
 Nilai Normal : Negatif
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
- Positif (+) : Terbentuk warna biru kehijauan.
 Catatan :
- Darah samar ditemukan pada kerusakan pada saluran kemih yang menyebabkan hemoglobin dan eritrosit dalam urine.
- Benzidine Basa sangat toksis dan bersifat karsinogenik, harus hati-hati menggunakan bahan ini.

 Protein Esbach

 Metode : Esbach
 Prinsip : Protein dalam suasana asam akan mengalami denaturasi hingga menggumpal dan akan mengendap pada dasar tabung setelah bereaksi dengan asam pikrat dan asam sitrat (Reagent Esbach), tinggi endapan diukur dan sebandingkan dengan protein yang terdapat dalam urine selama 24 jam.
 Tujuan : Untuk mengetahui jumlah protein secara kuantitatif dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung Albuminometer Esbach : Asam pikrat 1 gram, asam citrat 2 gr, aquadest add 100 ml. buatlah larutan kemudian ditambahkan HCl pekat 5,0 ml.
- Pipet tetes
- Serbuk batu apung
- Asam Asetat glasial
 Sampel : Urine 24 jam
 Persiapan Pasien :
- Penderita yang akan melakukan pemeriksaan disuruh menampung urinenya selama 24 jam dengan menyediakan wadah yang berukuran 2- 3 liter.
- Ditambahkan kedalamnya pengawet urine Thymol.
 Cara Kerja :
- Diukur dahulu jumlah/volume urine yang ditampung.
- Uji kualitatif harus bereaksi ++ hingga ++++ dan bila positif +++ dan ++++ urine harus diencerkan 2 hingga 8 x.
- Urine jernih yang harus dipakai serta bereaksi asam, jika perlu tambahlah beberapa tetes asam asetat glacial kepada urine hingga bereaksi asam
- Isilah tabung Esbach dengan serbuk batu apung sampai 3 mm tingginya.
- Masukkan urine hingga tanda batas “ U “.
- Tambahkan reagent Esbach kedalamnya hingga tanda “ R “.
- Sumbatlah tabung dan bolak-balik 12 kali.
- Letakkan tabung posisi tegak selama 24 jam.
- Tinggi presipitat dibaca dan dinyatakan dalam gram protein per liter urine per 24 jam. (gram/liter per 24 jam)
- Faktor pengenceran diperhitungkan bila dilakukan pengenceran urine
 Interpretasi Hasil :
- Negatif (-) : Tidak terjadi endapan.
- Positif (+) : Terbentuk endapan putih.
 Catatan :
- Apabila hasil pemeriksaan secara kualitatif negatif, maka tidak perlu dikerjakan protein Esbach karena tidak bermakna.

 Protein Bence Jones

 Metode : Bang
 Prinsip : Protein dalam suasana asam dan pemanasan 40 - 60°C akan mengalami denaturasi hingga menggumpal dan akan mengendap pada dasar tabung.
 Tujuan : Untuk mengetahui adanya protein Bence Jones dalam urine.
 Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Asam asetat 10%

 Sampel : Urine sewaktu

 Cara Kerja :
- Masukkan 2/3 bagian urine ke dalam tabung sentrifuge.
- Ditambah 4 tetes asam asetat 10% dan dipanasi dengan nyala api spritus sampai mendidih (jangan sampai meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70°C selama 2 menit.
- Biarkan beberapa saat sampai suhu ± 50°C (termometer) akan terjadi endapan putih yang berarti tes positif.

 Nilai Normal : Negatif

 Interpretasi Hasil :
- Negatif : tidak terjadi endapan putih pada suhu ± 50°C.
- Positif : terjadi endapan putih pada suhu ± 50°C.

 Aspek Klinik :
Protein Bence Jones sering terdapat pada multiple myeloma (myeloma berganda), kadang pada tumor-tumor tulang, leukemia kronis, empysema dan hiperparatiroidisme.

Monday, 9 September 2013

Hapusan Darah ( cara kerja )

HAPUSAN DARAH
Prinsip  Kerja     :
Setetes darah dipaparkan diatas gelas objek  lalu dicat  dan diperiksa dibawah mikroskop

Tujuan  :
1.       Menilai unsur sel pada darah tepi :
Eritrosit, Leukosit, Trombosit
2.       Mencari Adanya parasit :
Malaria, Mikrofilaria

Syarat Mutlak :
Untuk Mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik, sediaan hapus harus dibuat dan dipulas dengan baik.

Bahan pemeriksaan :
  1. Darah  kapiler
  2. Darah vena yang diberi antikoagulan ( Ethylendiamine Tetraacetic  Acid / EDTA)

Peralatan :
  1. Kaca Objek bebas lemak dan debu, kering dan bersih
  2. Rak pewarnaan
  3. Pipet pasteur
  4. Mikroskop


Reagensia :
  1. Metanol Absolut
  2. Zat warna,  Prinsip menurut  Romanowsky :
·         Giemsa
·         Wright
·         May Grunswold-Giemsa
·         Wright-Giemsa

Nilai Normal :
  1. Basophyl              : 0 – 1 %
  2. Eosinofil               : 1 -  3 %
  3. Stab                       : 2 -  6 %
  4. Segmen                               : 50-70%
  5. Lymfosit               :  20-40%
  6. Monosit               :  2  -  8%



Dasar Romanowsky  adalah menggunakan dua zat warna yang berbeda  :
  1. Azuur B (Trimethhylthonin ) yang bersipat basa
  2. Eosin Y ( Tetrabromoflorescan) Yang bersipat asam

Zat warna  basa mewarnai sel yang bersipat asam yaitu Kromatin dan DNA dalam inti sel dan zat warna asam mewarnai sel yang bersipat basa Sitoplasma.




CARA PEMBUATAN SEDIAAN HAPUSAN DARAH :
  • Kaca objek harus               - Kering bebas air
                                                                - Bebas lemak  dan debu             
  1. Sentuh setetes darah dengan jarak ± 2cm dari ujung  kaca objek dan letakan diatas meja dengan tetes darah sebelah kanan.
  2. Dengan tangan kanan letakkan kaca objek lain sisebelah kiri tetes darah. Gerakkan kekanan  sehingga mengenai tetes darah tadi
  3. Tetes darah akan menyebar  pada sisi kaca penggeser. Tunggusampai darah mencapai ± ½ cm dari kaca.
  4. Dorong kaca penggeser kekiri sambil  memegang miring dengan sudut  30-45°.
  5. Biarkan sediaan kering dan tulis nama penderita dan tanggal pembuatan sediaan.
  6. Sediaan  siap diberei pewarnaan.

Pewarnaan Wright :
  1. Teteskan larutan wright sampai menutupi dalam sediaan 2-3 menit.
  2. Teteskan Buffer pH 6.4 sama banyak . Biarkan 5-12 menit.
  3. Cuci dengan air suling untuk membersihkan dari cat asam yang berlebihan.
  4. Keringkan

Pewarnaan Giemsa ;
  1. Letakan sediaan yang akan dipulas diatas rak  dengan lapisan darah keatas
  2. Teteskan beberapa tetes metanol keatas sediaan apus sehingga bagian yang terlapis darah tertutup semuanya. Biarkan 5 menit.
  3. Tuang kelebihan metanol tadi.
  4. Teteskan Lart. Giemsa yang telah diencerkan (1ml Aquadest + 5 tts Giemsa induk) biarkan 20 menit.
5.       Bilas dengan air.
  1. Biarkan vertikal sampai kering

Ciri-Ciri Sediaan yang baik :
  1. Sediaan tidak melebar sampai pinggir kaca objek. Panjang 1/2 sd 2/3 panjang kaca.
  2. Harus ada bagian yang cukup tipis untuk diperiksa.
  3. Sediaan tidak boleh berlubang-lubang atau bergaris-garis
  4. Eritrosit tersebar rata pada bagian yang diperiksa. Tidak boleh ada gumpalan.
  5. Leukosit tidak boleh berkumpul pada pinggir atau ujung sediaan.

Pemeriksaan Sediaan Hapusan Darah
                                                                                       
1.       Kepala
2.       Buntut
3.       Daerah Limposit
1
2
4.       Daerah  Monosit
5.       Eritrosit  Berkelompok
6.       Eritrosit  Terpisah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
%
Baso
Eosi
Stab
Segm
Limp
Mono
Jml
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
100